Kriteria Generasi Muda Islam

Saturday, June 11, 2011

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Tidak bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia dipertanyakan tentang 4 perkara; tentang usianya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa dipergunakan, tentang hartanya dari mana didapat dan untuk apa dinafkahkan, dan tentang ilmunya untuk apa diamalkan.”

[Riwayat al-Baihaqi dan selainnya dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu Anhu]

Begitulah keadaan setiap anak Adam di hari akhirat kelak. Tidak akan ada seorang pun yang akan mempunyai kuasa bahkan ke atas dirinya sendiri. Setiap anak Adam hanya menunggu dan menanti keputusan Allah s.w.t. Pemilik Hari Pengakhiran.

Namun antara satu aspek penting yang dapat kita pelajari dari hadis di atas adalah penekanan yang Rasulullah s.a.w. berikan pada usia setiap anak Adam. Rasulullah s.a.w. mengulang kembali isi tentang usia dengan merincikan ia kepada masa muda bagi anak Adam, untuk apa ia dipergunakan. Tidak dapat tidak, amat perlu untuk kita menilai kembali kepentingan dan signifikasi masa muda setiap anak Adam selain dari sekadar usianya kesuluruhan.

Sepanjang sejarah manusia, sememangnya pemuda tidak dapat diasingkan dari kejadian yang menakjubkan dan yang memberi kesan kepada ketamadunan kita. Merungkai kembali peranan pemuda dalam sirah islam, kita menemukan banyak sekali catatan yang termaktub tentang mereka. Ciri-ciri mereka dalam sejarah diceritakan dalam Al-Quran yang tiada keraguan dalamnya.

1- Keyakinan dan keberanian yang mantap

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. dan Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. (Surah Yunus :83)

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk.( Surah al-Kahfi : 13 )

Maka sememangnya pemudalah yang mempunyai keyakinan dan keberanian yang tinggi. Kendatipun mereka menyedari bahawa fir’aun akan menyiksa mereka, namun mereka tetap beriman dengan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. Begitu juga kisah pemuda penghuni gua yang melarikan diri demi berpegang teguh dengan akidah yang benar.

Dalam sejarah dunia secara umumnya sekalipun, kita dapat memerhatikan bahawa sifat ini adalah fitrah mereka. Revolusi dan perubahan yang berlaku dalam kancah pemikiran dan konflik ketamadunan dunia baik barat mahupun timur seringkali dihiasi dengan pemuda dan merekalah yang menjadi tonggak dalam satu-satu perjuangan.

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim “.(Surah Al-Anbiya’ : 60 )

Begitulah pula seperti yang ditunjukkan Nabi Ibrahim a.s. yang mempunyai keimanan yang teguh bahawa tuhan tidak mungkin dari berhala yang tidak mampu berbuat apa-apa, lantas ia mencela kebatilan di hadapan masyarakatnya. Dalam apa jua keadaan, keimanan dan keyakinan ini diterjemahkan dengan jelas dalam perbuatan mereka, dan pemuda tidak sekali-kali layak untuk menjadi bacul dalam menghadapi kebatilan.

2- Memiliki kesabaran dan ketaatan yang benar

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Surah As-Shaffat : 102)

Nabi Ismail a.s. mengajar kepada para pemuda yang benar agar bersabar dan taat pada kebenaran. Ia tidak langsung ragu pada perintah yang diterima oleh ayahnya, Nabi Ibrahim a.s. sekalipun isu yang dibawa terkait dengan nyawanya sendiri.

Di sini perlu kita jelas dengan garis pemisah yang ditunjukkan dalam kisah Nabi Ismail ini bahawa kesabaran dan ketaatan yang dicurahkan adalah demi yang diperintahkan oleh Allah yang Maha Benar. Kesabaran dan ketaatan itu tidak diberikan kepada yang mengingkari al-Khaliq, seperti dalam sebuah hadith riwayat Imam Bukhari,

Dari Ali,

Rasulullah s.a.w. menghantar satu pasukan tentera dan melantik di antara mereka seorang ketua. Lelaki yang menjadi ketua itu membuat unggun api dan kemudiannya berkata kepada pengikutnya, “Masuklah ke dalamnya(api).”. Sebahagian dari mereka ingin masuk kerana taat, sedangkan yang lain berkata, “Kami telah lari darinya(kami masuk ke dalam islam untuk menjauhi dari api neraka .” Setelah pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah s.a.w. dan tentang adanya mereka yang ingin terjun ke dalam api itu, lantas Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jika mereka masuk ke dalamnya(api), maka mereka akan kekal di dalamnya sehingga Hari Kiamat.” Kemudian baginda menyambung, “Tiada ketaatan dalam kemungkaran, ketaatan hanya pada yang baik.” (Hadith 363, Bab 91, Jilid 9).

Dalam tekanan yang diterima oleh pemuda islam sekarang yang berlaku secara halus dalam mereka berusaha untuk beramal dengan islam yang benar, hendaklah terus menerus kita bersabar dan taat pada perintah Allah s.w.t. sepertimana yang dipaparkan oleh Nabi Ismail a.s. Bukan ruang untuk kita mengambil jalan berputus asa kerana pemuda-pemudi muslim yang sebenar tidak pernah diajar jalan kelemahan dan putus harapan. Tidak sekali-kali !.

3- Taqwa, berakhlaq mulia dan adil

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku Telah memperlakukan Aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.( Surah Yusuf : 23)

Ini merupakan sebuah lagi kisah yang digambarkan oleh al-Quran tentang sifat pemuda yang dipercayai dan dimuliakan oleh Allah s.w.t. Pertamanya sifat taqwa yang tinggi dan sempurna kerana kemampuan pemuda dengan jiwa kuat dan sedar. Pemuda yang dimuliakan oleh Allah adalah yang bertaqwa dan mempunyai akhlaq yang mulia.

Inilah sifat-sifat asasi pemuda yang bermakna kepada sejarah manusia. Tindakan mereka adalah untuk keredhaan Allah s.w.t.dan mereka berlaku adil dalam setiap perkara. Inilah juga merupakan manifestasi kepada keimanan dan keberanian yang tinggi. Jika dinilai dari godaan yang diuji ke atas Nabi Yusuf, a.s., pastinya amat sedikit dan barangkali tiada seorang pun yang akan tegar menolak godaan dan pujukan wanita tersebut. Namun begitulah Allah mahu mendidik generasi pemuda yang mendatang melalui contoh tauladan yang baik dari kisah pemuda terdahulu.

Generasi pemuda di zaman Nabi Muhammad s.a.w.

Sekiranya para pemuda sekalian masih mampu berdalih dengan sifat yang dipaparkan oleh golongan anbiya’, maka lihatlah kembali pada generasi para sahabat yang berjuang bersama Nabi s.a.w. dan mereka merupakan entiti yang bernilai tinggi dalam sejarah manusia. Mereka ini bukanlah para nabi atau rasul, mereka hanyalah manusia biasa, namun mereka tetap mampu untuk berdiri teguh pada kebenaran.

Jelasnya mereka sekali lagi memaparkan ciri-ciri pemuda yang sebenar. Inilah kriteria yang menjadikan pemuda-pemudi sekalian bernilai dan dikira sebagai satu entiti dalam jasad ummah.

Bukanlah angan-angan, ya syabab ! Ini adalah realiti.

Bahkan Ibn Abbas berpendapat bahawa rasul-rasul dan orang-orang yang dikurniai ilmu adalah dari kalangan pemuda. Dan ini adalah pendapat yang disokong bukti dari al-Quran, as-sunnah dan dari sejarah umat ini sendiri.

Jadi pemuda-pemudi sekalian, dimanakah akan kamu pergunakan masa muda mu dalam kehidupan ini? Adakah kelak kamu tidak akan berganjak ke mana-mana kerana masa mudamu telah hilang ditelan hawa nafsu ?

Posted by Mohd Khairul Hidayat Berahim

UPAYA GENERASI MUDA MUSLIM DALAM KEMAJUAN ISLAM DI MASA DEPAN

Posted by: youngislamicleaders

Perkembangan globalisasi kian mengantarkan dunia pada satu sistem masyarakat multidimensi dengan tingkat kebutuhan yang semakin meningkat. Adanya pola interdependensi yang tercipta antara satu kelompok dengan kelompok lainnya mengakibatkan bertambahnya tingkat interaksi antar manusia. Belum lagi dampak dari transborder, dimana tidak ada batasan kongkrit dalam mendeskripsikan tatanan masyarakat dalam satu negara. Sehingga kita yang tinggal di Indonesia dapat dengan mudah menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan saudara di luar pulau, negara seberang, bahkan benua lain, melalui apa yang kita sebut dengan kemajuan teknologi.

Kemajuan teknologi ini mendapat perhatian khusus oleh masyarakat dan sangat menarik untuk didiskusikan, terutama untuk kemajuan generasi muda islam. Sebagai generasi muda islam, kita dituntut untuk mampu meningkatkan daya saing, baik di tingkat nasional maupun internasional. Teknologi bukan untuk diperangi, namun kehadirannya dapat dijadikan sarana multi fungsi dalam meningkatkan inovatif, kreatifitas, wawasan, dan daya saing generasi muda islam sebagai upaya memperkuat peran dan eksistensinya dalam tatanan global. Banyak remaja islam yang pesimis  akan hal ini. Menurut sebahagian besar remaja, derasnya budaya barat / pop culture yang telah masuk ke Indonesia telah mengubah pandangan dan trend anak muda, termasuk generasi muda islam.

Di satu sisi, saya sepakat dengan derasnya pop culture yang masuk dan berperan sebagai soft-diplomacy-nya orang-orang barat; karena memang itu fakta yang terjadi di kalangan anak muda, namun di balik pengakuan itu, saya sangat optimis bahwa generasi muda islam dapat mengambil peran yang jauh lebih besar dan penting untuk kemajuan islam di masa yang akan datang. Hanya saja ada beberapa indikator yang harus dicapai, yaitu : Tauhid, Ideologi, dan Enterpreneur. Melalui tiga pisau analisis inilah, saya akan membahas generasi muda islam yang dapat memberikan pengaruh yang luar biasa hebat, baik bagi kemajuan agama islam maupun tatanan global.

 

1.    Tauhid yang Mantap

Ketika tauhid seorang pemuda/i islam telah kuat dan mantap, maka disitulah awal intelektualitas dan percaya dirinya akan muncul. Yang dimaksud tauhid disini adalah segala sesuatu yang tejadi di dunia ini adalah kehendak (iradah)-Nya, sehingga empat sifat yang cenderung membuat manusia depresi; cinta, harap, takut, dan cemas, tidak akan mampu menghalangi jalan dan usahanya untuk menjadi seorang muslim yang cerdas dunia dan akhirat.

Dalam memahami konsep Tauhid ini, saya membagi pola pikir manusia dalam dua bagian, yaitu : Up Stream dan Down tream.

Contoh pola pikir di level Up Stream, ketika seorang pemuda kehilangan laptop, usahanya bangkrut, Indeks Prestasi Kumulatirfnya menurun, maka ia tidak akan  mengeluh atau menyalahkan siapa pun. Justru yang ia lakukan adalah bersyukur atas apa yang Allah tetapkan untuknya, karena ia yakin itu adalah cara Allah untuk menegur, mengingatkan, menguji, bahkan mengangkat derajatnya. Ia yakin bahwa, di balik ujian itu akan ada hadiah spesial yang disiapkan Allah untuknya jika ia mampu berpikir di level Up Stream, maka masalah-masalah kecil seperti yang telah disebutkan di atas tidak sedikit pun mengurangi mental dan ikhtiar/usahanya dalam menggapai cita-cita. Ketika generasi muda islam sudah mampu menjadikan pola pikirnya berada pada level Up Stream, maka pola pikir dan mentalnya tidak akan ciut seiring perkembangn zaman. Generasi muda islam akan tumbuh menjadi komunitas yang memiliki solidaritas tertinggi. Inilah alasannya Sir Goerge Bernard Show, Tokoh Irlandia, pendiri London School of Economy mengatakan pengakuannya bahwa :

“ Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris dan Eropa beberapa ratus tahun dari sekarang islamlah agama tersebut. Saya senantiasa menghormati agama tersebut……”

Kekuatan tauhid inilah yang menjadi titik penting dalam penyusunan draft dakwah demi kemajuan islam di masa depan. Bahkan bangsa barat pun mengakui hal tersebut

 

 2.    Ideologi cerdas

Ideologi merupakan sudut atau cara pandang. Bagaimana seorang muslim memandang dunia merupakan cerminan tingkat kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritualitasnya. Seseorang yang memiliki dasar ideologi yang kuat, otomatis ia tidak akan mudah terpengaruh oleh kondisi zaman yang kian relatif. Ideologi muslim dalam menata solidaritas generasi muda islam di seluruh dunia hanya satu, yaitu : Al-qur’an. Ketika segala sesuatu, baik itu perilaku, sifat, fakta, rencana, dan memahami alam telah berlandaskan al-qur’an, maka ia akan mampu menghadapi tantangan globalisasi dengan lebih dinamis. Bagaimana tidak ? Abdullah Darraz mengatakan bahwa :

“Ayat-ayat Al-Qur’an bagaikan intan; setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya. Dan tidak mustahil, bila anda mempersilahkan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak dari apa yang anda lihat”

Generasi muda islam yang sudah memiliki ideologi cerdas adalah mereka yang berideologi pada Al-qur‘an, tidak hanya membacanya, namun juga mentadabburinya, sehingga kita tahu makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Kemudian menjadikan ideologi tersebut menjadi ideologi cerdas maknanya adalahtidak lagi memikirkan hal-hal kecil yang tidak penting untuk diperdebatkan. Ia akan memilih untuk memikirkan hal-hal besar demi kemajuan dan kesatuan umat islam di masa yang akan datang. Karena generasi muda islam sekarang sdang berjalan dengan kakinya yang pincang. Ada patogen sosial yang sedang menyerang kaum muda islam, dan patogen ini justru menyerang ideologi islam, khususnya bagi generasi muda yang tidak memahami kandungan al-qur’an.

Oleh karena itu, ketika generasi muda islam telah mematenkan ideologinya yaitu Al-qur’anulkarim, dan memahaminya kandungan, makna dan nilainya dengan cerdas maka perkembangan globalisasi, yang meliputi gadget, westernisasi, pop culture, dan perkembangan ilmu lintas agama bukanlah masalah yang harus ditakuti apalagi diperangi. Sekali lagi tidak. Tapi sebagai muslim yang memiliki ideologi cerdas, justru dampak globalisasi itu dapat dijadikan sebagai sarana dalam melebarkan sayap prestasi, dakwah, dan eksistensi islam sebagai agama yang dinamis. maka ia tidak akan terpengaruh terhadap perkembangan globalisasi yang kian mengikis iman.

 

3.      Enterpreneur

Pengusaha muda muslim memainkan peran tersendiri dalam menata kemajuan islam dalam tatanan global. Umat islam harus kreatif dan inovatif dalam menanggapi sistem kapitalis yang mau tidak mau telah terbentuk di lingkungan masyarakat. Bayangkan apa jadinya jika pemuda islam selalu menjadi karyawan atau apa yang disebut dengan  “bawahan” ?  Kalau ini terus terjadi, maka umat islam tidak akan pernah maju. Umat islam harus kaya, baik kaya ilmu, hati, materi, maupun mental. Karena bagaimana mungkin umat islam bisa bersedeqah, infaq, berbagi, kalau dia tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dalam bahasa lain disebut dengan “miskin” ?

Sistem kapitalis yang kian mengakar pada budaya masyarakat lokal maupun internasional telah mengubah pola pikir masyarakat, bahwa seorang yang mampu membawa kemajuan dan pengaruh adalah mereka yang menjadi Business Owner, bukan mereka yang hanya menjadi Employee. Ketika generasi muda islam mampu merubah pola pikirnya sesuai dengan teori Cashflow Quadrant oleh Robert Kiyosaki, maka perubahan besar bagi kemajuan umat islam akan semakin nyata. Karena islam adalah agama yang realis, tidak tenggelam dalam lamunan dan khayalan. Sehingga dalam menghadapi tantangan global, tidak cukup dengan hanya bermodal Tauhid dan Ideologi. Namun harus diimplementasikan dalam bentuk perilaku, yaitu menjadi pengusaha muda muslim.

 

Belajar Enterpreneur Dari Muhammad SAW

Satu hal yang berbeda sebelum menikah, Muhammad adalah project manager bagi Khadijah. Setelah menikah, beliau menjadi joint owner dan supervisor bagi agen-agen perdagangan Khadijah.

Dalam ilmu enterpreneurship, yang dilakukan Muhammad Saw pasca menikah merupakan sebuah lompatan dari quadran pekerja pindah ke quadran business owner  dan co-investor. Tanpa kita sadari Muhammad Saw telah mengaplikasikan suatu teori yang disarankan Robert T. Kiyoshi, yaitu teori Cashflow Quadrant[1]. Uniknya teori tersebut baru dikemukakan 15 abad kemudian. Perbedaan lain, Robert T. Kiyoshi memilih untuk menjadi self employed dengan berprofesi sebagai business network consultan danbook writer, bukan sebagai trader dan business investor berskala regional atau global. Lihat Gambar berikut.

 

Robert Kiyosaki ‘Cash-Flow Quadrant’

Sumber : Robert T. Kiyosaki, Clash-flow Quadrant (dengan modifikasi), dikutip dari Eksiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW.

Sejumlah hadist yang memberikan tuntunan perdagangan  menunjukkan bahwa Muhammad Saw mengetahui seluk beluk bisnis. Beliau memahami strategi keberhasilan dalam berdagang. Beliau juga mengerti akan sifat edan perilaku yang dapat merusak atau menghambat bisnis perdagangan dan enterprenership. Lebih dari itu, Muhammad Saw memehami berbagai hal yang merusak sistem pasar secara keseluruhan, seperti kecurangan timbangan, menyembunyikan cacat barang yang dijual, riba, dan gharar. Beliau telah membuktikan bahwa kesuksesan dalam bisnis dapat dicapai tanpa menggunkan cara-cara curang.

 

By : Sherly Annavita

@SherlyAnnavita

Drs. Yusdani, MSc. : Globalisasi Menggerus Religiusitas Generasi Muda

Adanya serbuan kultural yang mempengaruhi generasi muda menjadi salah satu dampak globalisasi. Bangsa Indonesia, sehubungan dengan globalisasi ini menghadapi problem yang cukup serius, yakni mulai memudarnya sinyal religiusitas dalam masyarakat dunia, terutama di kalangan generasi muda. Tak ayal memang, globalisasi berimplikasi pada perubahan cultural dan sosial. Hal ini dinyatakan Dosen FIAI UII sekaligus Periset pada Pusat Studi Islam (PSI) UII pada acara Kuliah Umum Dirosah Islamiyah Angkatan Kedua, Sabtu (7/4).

Acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) UII ini dimaksudkan guna memberikan nilai plus memperkokoh wawasan ke-Islaman bagi para aktivis lembaga dan komunitas dakwah di UII. Bertempat di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr. Sardjito Kampus Terpadu UII, kuliah umum dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III Ir. Bachnas, MSc. Turut hadir pula Kadiv. Pendidikan dan Pembinaan Dakwah (PPD) Supriyanto Pasir, S.Ag., M.Ag. beserta para staf DPPAI UII lainnya.

Arus globalisasi, lanjut Drs. Yusdani, akan menggerus lokalitas dan tatanan baku yang ada. Proses globalisasi akan berbenturan dengan upaya mempertahankan tradisi dan paham keagamaan. Parahnya, yang paling rawan terkena dampak ini adalah generasi muda. “Ringkasnya, globalisasi tidak hanya mempengaruhi transformasi sosial progresif dalam bentuk kemajuan teknologi namun juga keruntuhan budaya”tegasnya.
Untuk itu, dalam materinya berjudul ‘Pengembangan Ilmu di Masa Depan’, pihaknya mengajak para mahasiswa UII sebagai cendekiawan muslim guna menjadi agen dalam memberikan pencerahan pada masyarakat. Terlebih, UII sebagai sebuah lembaga akademik yang mengusung misi ‘Islam rahmatan lil `alamin’ serta slogan ‘beramal ilmiah-berilmu amaliah’ sudah saatnya mengambil langkah strategis dan konkrit menciptakan pengembangan ilmu berdasar nilai – nilai transcendental (profetik). “Yakni, suatu ilmu berasaskan humanisasi (amar ma`ruf), liberasi (nahyi munkar), dan transendensi (tu`minu billah)”jelasnya rinci.

ImageSementara itu, WR III Ir. Bachnas MSc. mengingatkan agar mahasiswa UII selalu berpegang teguh pada nilai – nilai Qur`an dalam menghadap kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Menurutnya, majunya zaman ini merupakan suatu Sunnatulloh (ketetepan Allah SWT) yang semestinya manusia sebagai hamba dapat meyakininya. “Kemajuan zaman dan kemodernan ditandai dengan adanya sesuatu dari ketiadaannya. Sudah ada sejak dahulu bahkan sejak zaman para Nabi seperti kaum Nabi Luth AS yang mampu membuat rumah dari batu”terangnya.

Ir Bachnas menegaskan bahwa AlQur`an merupakan referensi semua ilmu yang semestinya  menjadi acuan dalam penelitian ataupun kegiatan ilmiah. “AlQur`an merupakan sumber ilmu, namun jarang untuk diteliti, dianalisis, dan dibuktikan. Kami berharap mahasiswa UII dapat membudayakan telaah Qur`an dalam segala aktivitas, terutama penelitian ilmiahnya”harapnya.

“Segala ilmu milik Allah SWT, merupakan suatu kesatuan. Oleh karenanya, setiap insan yang menguasai ilmu sejatinya dapat mendekatkan dirinya pada Allah SWT. Ringkasnya, ilmu pengetahuan adalah jalan tercepat menuju syurga”ungkapnya yakin.

Sumber: http://www.uii.ac.id/content/view/1863/?lang=idImageImage

Kawula Muda Islam Jakarta

Image

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Generasi muda muslim diharapkan dapat memegang peran penting dalam kemajuan Islam di Indonesia. Sangat disayangkan bila generasi muda yang diharapkan menjadi penerus kemajuan Islam ini semakin jauh dari kebiasaan membaca dan mendengarkan ayat-ayat suci Alquran.

Itulah yang menjadi keprihatinan para ulama Alquran dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Alquran di Serang Banten. Pakar Tafsir Alquran Indonesia, Quraish Shihab mengatakan enggannya generasi muda Islam membaca dan mempelajari Alquran memang sangat memprihatinkan.

Walaupun ia menyadari enggannya generasi muda membaca dan mempelajari kitab suci bukan hanya terjadi di agama Islam saja. Melainkan fenomena ini juga terjadi hampir di seluruh agama di dunia. Quraish khawatir kedangkalan pemahaman Alquran oleh generasi muda Islam ini apabila terus berkelanjutan dapat berdampak buruk bagi kualitas anak bangsa.

“Karena itu dibutuhkan pendekatan berbeda yang dilakukan oleh para guru, ustaz dan ulama kepada generasi muda agar tetap memiliki minat untuk membaca dan mempelajari Alquran,” kata mantan Menteri Agama (Menag) era presiden Soeharto ini.

Quraish mengimbau ulama-ulama harus pandai-pandai menunjukkan betapa Alquran bisa menjadi petunjuk ril bagi solusi permasalahan hidup para generasi muda. “Harus dijabarkan secara merinci bagaimana teks Alquran itu dapat menjawab realitas yang ada,” ujarnya.