UPAYA GENERASI MUDA MUSLIM DALAM KEMAJUAN ISLAM DI MASA DEPAN

Posted by: youngislamicleaders

Perkembangan globalisasi kian mengantarkan dunia pada satu sistem masyarakat multidimensi dengan tingkat kebutuhan yang semakin meningkat. Adanya pola interdependensi yang tercipta antara satu kelompok dengan kelompok lainnya mengakibatkan bertambahnya tingkat interaksi antar manusia. Belum lagi dampak dari transborder, dimana tidak ada batasan kongkrit dalam mendeskripsikan tatanan masyarakat dalam satu negara. Sehingga kita yang tinggal di Indonesia dapat dengan mudah menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan saudara di luar pulau, negara seberang, bahkan benua lain, melalui apa yang kita sebut dengan kemajuan teknologi.

Kemajuan teknologi ini mendapat perhatian khusus oleh masyarakat dan sangat menarik untuk didiskusikan, terutama untuk kemajuan generasi muda islam. Sebagai generasi muda islam, kita dituntut untuk mampu meningkatkan daya saing, baik di tingkat nasional maupun internasional. Teknologi bukan untuk diperangi, namun kehadirannya dapat dijadikan sarana multi fungsi dalam meningkatkan inovatif, kreatifitas, wawasan, dan daya saing generasi muda islam sebagai upaya memperkuat peran dan eksistensinya dalam tatanan global. Banyak remaja islam yang pesimis  akan hal ini. Menurut sebahagian besar remaja, derasnya budaya barat / pop culture yang telah masuk ke Indonesia telah mengubah pandangan dan trend anak muda, termasuk generasi muda islam.

Di satu sisi, saya sepakat dengan derasnya pop culture yang masuk dan berperan sebagai soft-diplomacy-nya orang-orang barat; karena memang itu fakta yang terjadi di kalangan anak muda, namun di balik pengakuan itu, saya sangat optimis bahwa generasi muda islam dapat mengambil peran yang jauh lebih besar dan penting untuk kemajuan islam di masa yang akan datang. Hanya saja ada beberapa indikator yang harus dicapai, yaitu : Tauhid, Ideologi, dan Enterpreneur. Melalui tiga pisau analisis inilah, saya akan membahas generasi muda islam yang dapat memberikan pengaruh yang luar biasa hebat, baik bagi kemajuan agama islam maupun tatanan global.

 

1.    Tauhid yang Mantap

Ketika tauhid seorang pemuda/i islam telah kuat dan mantap, maka disitulah awal intelektualitas dan percaya dirinya akan muncul. Yang dimaksud tauhid disini adalah segala sesuatu yang tejadi di dunia ini adalah kehendak (iradah)-Nya, sehingga empat sifat yang cenderung membuat manusia depresi; cinta, harap, takut, dan cemas, tidak akan mampu menghalangi jalan dan usahanya untuk menjadi seorang muslim yang cerdas dunia dan akhirat.

Dalam memahami konsep Tauhid ini, saya membagi pola pikir manusia dalam dua bagian, yaitu : Up Stream dan Down tream.

Contoh pola pikir di level Up Stream, ketika seorang pemuda kehilangan laptop, usahanya bangkrut, Indeks Prestasi Kumulatirfnya menurun, maka ia tidak akan  mengeluh atau menyalahkan siapa pun. Justru yang ia lakukan adalah bersyukur atas apa yang Allah tetapkan untuknya, karena ia yakin itu adalah cara Allah untuk menegur, mengingatkan, menguji, bahkan mengangkat derajatnya. Ia yakin bahwa, di balik ujian itu akan ada hadiah spesial yang disiapkan Allah untuknya jika ia mampu berpikir di level Up Stream, maka masalah-masalah kecil seperti yang telah disebutkan di atas tidak sedikit pun mengurangi mental dan ikhtiar/usahanya dalam menggapai cita-cita. Ketika generasi muda islam sudah mampu menjadikan pola pikirnya berada pada level Up Stream, maka pola pikir dan mentalnya tidak akan ciut seiring perkembangn zaman. Generasi muda islam akan tumbuh menjadi komunitas yang memiliki solidaritas tertinggi. Inilah alasannya Sir Goerge Bernard Show, Tokoh Irlandia, pendiri London School of Economy mengatakan pengakuannya bahwa :

“ Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris dan Eropa beberapa ratus tahun dari sekarang islamlah agama tersebut. Saya senantiasa menghormati agama tersebut……”

Kekuatan tauhid inilah yang menjadi titik penting dalam penyusunan draft dakwah demi kemajuan islam di masa depan. Bahkan bangsa barat pun mengakui hal tersebut

 

 2.    Ideologi cerdas

Ideologi merupakan sudut atau cara pandang. Bagaimana seorang muslim memandang dunia merupakan cerminan tingkat kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritualitasnya. Seseorang yang memiliki dasar ideologi yang kuat, otomatis ia tidak akan mudah terpengaruh oleh kondisi zaman yang kian relatif. Ideologi muslim dalam menata solidaritas generasi muda islam di seluruh dunia hanya satu, yaitu : Al-qur’an. Ketika segala sesuatu, baik itu perilaku, sifat, fakta, rencana, dan memahami alam telah berlandaskan al-qur’an, maka ia akan mampu menghadapi tantangan globalisasi dengan lebih dinamis. Bagaimana tidak ? Abdullah Darraz mengatakan bahwa :

“Ayat-ayat Al-Qur’an bagaikan intan; setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya. Dan tidak mustahil, bila anda mempersilahkan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak dari apa yang anda lihat”

Generasi muda islam yang sudah memiliki ideologi cerdas adalah mereka yang berideologi pada Al-qur‘an, tidak hanya membacanya, namun juga mentadabburinya, sehingga kita tahu makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Kemudian menjadikan ideologi tersebut menjadi ideologi cerdas maknanya adalahtidak lagi memikirkan hal-hal kecil yang tidak penting untuk diperdebatkan. Ia akan memilih untuk memikirkan hal-hal besar demi kemajuan dan kesatuan umat islam di masa yang akan datang. Karena generasi muda islam sekarang sdang berjalan dengan kakinya yang pincang. Ada patogen sosial yang sedang menyerang kaum muda islam, dan patogen ini justru menyerang ideologi islam, khususnya bagi generasi muda yang tidak memahami kandungan al-qur’an.

Oleh karena itu, ketika generasi muda islam telah mematenkan ideologinya yaitu Al-qur’anulkarim, dan memahaminya kandungan, makna dan nilainya dengan cerdas maka perkembangan globalisasi, yang meliputi gadget, westernisasi, pop culture, dan perkembangan ilmu lintas agama bukanlah masalah yang harus ditakuti apalagi diperangi. Sekali lagi tidak. Tapi sebagai muslim yang memiliki ideologi cerdas, justru dampak globalisasi itu dapat dijadikan sebagai sarana dalam melebarkan sayap prestasi, dakwah, dan eksistensi islam sebagai agama yang dinamis. maka ia tidak akan terpengaruh terhadap perkembangan globalisasi yang kian mengikis iman.

 

3.      Enterpreneur

Pengusaha muda muslim memainkan peran tersendiri dalam menata kemajuan islam dalam tatanan global. Umat islam harus kreatif dan inovatif dalam menanggapi sistem kapitalis yang mau tidak mau telah terbentuk di lingkungan masyarakat. Bayangkan apa jadinya jika pemuda islam selalu menjadi karyawan atau apa yang disebut dengan  “bawahan” ?  Kalau ini terus terjadi, maka umat islam tidak akan pernah maju. Umat islam harus kaya, baik kaya ilmu, hati, materi, maupun mental. Karena bagaimana mungkin umat islam bisa bersedeqah, infaq, berbagi, kalau dia tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dalam bahasa lain disebut dengan “miskin” ?

Sistem kapitalis yang kian mengakar pada budaya masyarakat lokal maupun internasional telah mengubah pola pikir masyarakat, bahwa seorang yang mampu membawa kemajuan dan pengaruh adalah mereka yang menjadi Business Owner, bukan mereka yang hanya menjadi Employee. Ketika generasi muda islam mampu merubah pola pikirnya sesuai dengan teori Cashflow Quadrant oleh Robert Kiyosaki, maka perubahan besar bagi kemajuan umat islam akan semakin nyata. Karena islam adalah agama yang realis, tidak tenggelam dalam lamunan dan khayalan. Sehingga dalam menghadapi tantangan global, tidak cukup dengan hanya bermodal Tauhid dan Ideologi. Namun harus diimplementasikan dalam bentuk perilaku, yaitu menjadi pengusaha muda muslim.

 

Belajar Enterpreneur Dari Muhammad SAW

Satu hal yang berbeda sebelum menikah, Muhammad adalah project manager bagi Khadijah. Setelah menikah, beliau menjadi joint owner dan supervisor bagi agen-agen perdagangan Khadijah.

Dalam ilmu enterpreneurship, yang dilakukan Muhammad Saw pasca menikah merupakan sebuah lompatan dari quadran pekerja pindah ke quadran business owner  dan co-investor. Tanpa kita sadari Muhammad Saw telah mengaplikasikan suatu teori yang disarankan Robert T. Kiyoshi, yaitu teori Cashflow Quadrant[1]. Uniknya teori tersebut baru dikemukakan 15 abad kemudian. Perbedaan lain, Robert T. Kiyoshi memilih untuk menjadi self employed dengan berprofesi sebagai business network consultan danbook writer, bukan sebagai trader dan business investor berskala regional atau global. Lihat Gambar berikut.

 

Robert Kiyosaki ‘Cash-Flow Quadrant’

Sumber : Robert T. Kiyosaki, Clash-flow Quadrant (dengan modifikasi), dikutip dari Eksiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW.

Sejumlah hadist yang memberikan tuntunan perdagangan  menunjukkan bahwa Muhammad Saw mengetahui seluk beluk bisnis. Beliau memahami strategi keberhasilan dalam berdagang. Beliau juga mengerti akan sifat edan perilaku yang dapat merusak atau menghambat bisnis perdagangan dan enterprenership. Lebih dari itu, Muhammad Saw memehami berbagai hal yang merusak sistem pasar secara keseluruhan, seperti kecurangan timbangan, menyembunyikan cacat barang yang dijual, riba, dan gharar. Beliau telah membuktikan bahwa kesuksesan dalam bisnis dapat dicapai tanpa menggunkan cara-cara curang.

 

By : Sherly Annavita

@SherlyAnnavita

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s